Bangkit dari Keterpurukan
Penulis: Dudung Abdul Rahman
Penerbit: Media Qalbu
Cetakan: Pertama, 2005
Tebal: 141 Halaman
Berpikir untuk berubah adalah suatu hal yang urgen dalam kehidupan karena "berubah" itu adalah "dinamika (gerak)" dan "bergerak" artinya "hidup". Sebaliknya, "jumud" adalah "kematian". Dengan demikian, tidak ada penampakan kehidupan selain "tumbuh" dan "berkembang (bergerak)". Oleh karena itu, setiap umat dan individu harus memiliki pemikiran untuk berubah dan melakukan perubahan. Apabila tidak, manusia akan mengalami kemusnahan dan kehancuran. Berserah diri terhadap fakta merupakan penyakit paling berbahaya dan musibah paling dahsyat.
Bangkitnya manusia bergantung pada pemikirannya tentang kehidupan. Oleh karena itu, harus ada perubahan yang mendasar dan menyeluruh terhadap pemikiran manusia dewasa ini, untuk kemudian diganti dengan pemikiran lain agar ia mampu bangkit. Sebab, pemikiranlah yang membentuk pemahaman terhadap segala sesuatu serta yang memperkuatnya. Demikianlah, apabila kita hendak mengubah tingkah laku manusia yang rendah menjadi luhur, hanya ada satu jalan yaitu mengubah pemikirannya terlebih dahulu.
Kebangkitan sejatinya diindikasikan dari tingginya taraf berpikir. Ketinggian taraf berpikir itu ditandai dengan dua sifat, yaitu mendalam dan menyeluruh. Untuk mewujudkan sebuah kebangkitan, diperlukan upaya menanamkan pemikiran yang tinggi, yaitu pemikiran yang menyeluruh berkaitan dengan semua aspek kehidupan, politik, sosial, ekonomi dan lain-lain. Pemikiran itu juga harus dibangun berdasarkan landasan yang kokoh, yaitu sistem keyakinan.
Kebangkitan yang benar mensyaratkan pikiran mendasar dan tercerahkan. Artinya, pikiran itu harus membahas fakta dengan pembahasan yang mendalam dan menyeluruh disertai dengan pengetahuan mengenai perkara dan kondisi yang berkaitan dengan fakta tersebut.
Ide perubahan merupakan merek dagang yang ditawarkan penguasa saat ini ketika di masa kampanye dulu. Ya, kita memang butuh perubahan yang kemudian bangkit menjadi bangsa yang bermartabat. Memang benar bahwa perubahan haruslah mendapat dukungan dari masyarakat. Tidak logis jika kita menginginkan perubahan di dalam masyarakat, namun masyarakat sendiri tidak mendukungnya.
Oleh karena itu, masyarakat harus dilibatkan secara aktif, bahkan harus menjadi pelaku utama perubahan, tak terkecuali perubahan ke arah masyarakat yang bermartabat dan bernurani.
Buku ini secara garis besar berisi refleksi dan internalisasi penulis terhadap berbagai peristiwa dan tragedi yang dialami maupun yang disaksikan. Isinya cenderung bersifat renungan yang dapat menggugah nurani pembaca untuk bangkit dan tumbuh. Harapannya satu, yaitu dapat memberikan kesejukan dan menambah vitalitas hidup guna meraih masa depan yang gemilang.
Penulis mengawali uraian tentang renungan atas berbagai musibah yang terjadi saat ini. Gelombang bencana seolah tak pernah berhenti melanda bumi pertiwi. Gempa, banjir, tanah longsor merupakan bentuk penampakan bencana tersebut. Di samping adanya solidaritas terhadap para korban, orang pun memberikan penafsiran bermacam-macam bencana ini. Ada yang mengangggap sebagai peringatan dari Sang Pencipta. Ada pula yang beranggapan bahwa itu semua merupakan azab-Nya. Bencana alam seperti gempa bumi, hujan superlebat, banjir, kekeringan, kebakaran hutan maupun panas terik yang sangat menyengat, dingin yang sangat, semuanya merupakan sunatullah di alam (sunnatullah fil kaun)
Bencana alam lainnya merupakan takdir Allah yang harus diimani sekaligus ujian yang harus dihadapi dengan sabar. Bencana harus senantiasa diwaspadai dan direnungkan demi masa depan umat manusia, yakni adanya hari akhirat dengan nikmat dan siksanya yang jauh lebih dahsyat dan abadi.
Jika direnungkan, sesungguhnya manusia tidak hidup untuk satu hari, tetapi akan memikirkan masa yang akan datang, baik untuk jangka waktu dekat jauh. Ini adalah fakta kehidupan manusia. Oleh karena itu apabila diamati, tidak ada manusia yang rela dengan fakta kehidupan yang sedang ia jalani secara mutlak, bagaimanapun faktanya. Ketika fakta yang ia hadapi itu bagus, manusia punya keinginan menjadikannya lebih bagus lagi. Ketika fakta yang dihadapi adalah buruk, ia ingin membuatnya jadi baik. Oleh karena itulah, kita mendapati banyak manusia yang rindu pada masa lalu, dan ada pula yang menangisinya sehingga selalu menatap ke masa lalu dan akan merindukannya. (Kurnia, mahasiswa UIN SGD Bandung)***